Jumat, 03 April 2015 /
Jumat, 20 April 2012 /
Ketua Umum PBNU: Ajaran Wahabi Harus Diperangi
Islam Times- Said mengatakan gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi.
Ketua Umum PBNU: Ajaran Wahabi Harus Diperangi
Gerakan Ansor Provinsi Kepulauan Riau dan Politeknik Negeri Batam menggelar bedah buku sejarah Berdarah Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram di Aula Politeknik Negeri Batam di Batam, Ahad (5/2). Acara ini menghadirkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj.
Said mengatakan gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi.
"Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya Wahabi atau Salafi itu cenderung mengarah gerakan radikal," kata dia.
Ia mengatakan, Wahabi memang bukan teroris, namun ajaran-ajaran yang disampaikan menganggap ajaran lain tidak benar sehingga harus ditentang dan mereka mengatasnamakan Islam.
Menurut Said, Wahabi selalu mengatasnamakan Islam dalam doktrin atau ajaran yang dilakukan, namun tindakannya kadang tidak islami.
"Meraka sering menganggap umat lain menjalankan tradisi bidah yang tak diajarkan agama seperti ziarah kubur, baca tahlil, sehingga ajaran itu harus diperangi," kata dia.
Ia mengatakan, segala kegiatan yang dilakukan umat Islam terutama kaum Nahdiyin (NU) semua berdasarkan ajaran dan tuntunan serta tidak ada yang mengada-ngada.
Said mengatakan, satu alasan mengapa NU menyatakan memerangi Wahabi karena ajaran yang disampaikan malah membuat perpecahan dalam tubuh Islam.
"NU tegas terhadap Wahabi, kami justru menghargai agama lain yang jelas-jelas tidak mebawa nama Islam," kata dia.
Hal tersebut, tambah Said, karena dalam Al-Quran juga diajarkan untuk saling menghargai antarumat beragama.
Tahun lalu, pada Sabtu, 03 Desember 2011 Ketua PBNU juga pernah mengatakan bahwa gerakan Wahabi harus diwaspadai.
"Wahabi atau salafi itu gerakan radikal, satu grade lagi itu mereka menjadi teroris," kata Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj dalam seminar Deradikalisasi Agama Berbasis Kyai/Nyai dan Pesantren di Jakarta, Sabtu (3/12/2011). [Islam Times/on/Ant/Metrotv/Republika]
Senin, 05 Desember 2011 /
Rabu, 14 Juli 2010 /
Menyatukan Hati
| MANAKALA manusia berbuat sesuatu untuk keuntungan material semata, tanpa disadari sesungguhnya ia telah menciptakan penjara untuk dirinya sendiri, mengisolir diri tanpa dapat disentuh. Pada akhirnya nanti ia akan menyadari bahwa uang perak ataupun uang emas hanyalah sebuah tanah. Kendatipun manusia tercipta dari tanah, namun tanah pun hidup untuk hidup manusia. Kebesaran dan makna hidup manusia tidak mungkin terus menerus tersembunyi dibalik kekayaan materi. Betapa banyak manusia yang "super kaya" bak Qarun, dan betapa sedikit manusia sejelata Abu Bakar Shiddiq. Qarun terus saja menimbun emas, permata, bahkan dosa-dosanya, sampai akhirnya kerak bumi menenggelamkannya hidup-hidup bersama seluruh kekayaannya. Lain Qarun, lain pula sayyidina Abu Bakar. Ketika beliau hendak berhijrah, ia ditanya Rasulullah saw, gerangan apa yang ia tinggalkan untuk anak-anaknya? Ia menjawab: "untuk mereka, aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya." Memang, harta mampu membeli loyalitas namun tak mampu membeli pertemanan. Benar memang bahwa harta mampu membeli kepatuhan, tapi ia gagal membeli cinta. Harta juga bisa memotivasi orang untuk berderma, namun tak akan mampu membeli keikhlasan. Begitulah. Memang, harta menjadi media paling cepat untuk beroleh prestise dan pemenuhan kehendak. Kadang banyak orang berfikir bahwa orang-orang kaya terlahir karena mereka memiliki talensi dan kemampuan otak berlebih dibanding orang lain. Dulu, pernah Abu Thabib Al Mutanabbi menjawab asumsi-asumsi seperti ini. Ia katakan, tak pernah ada hubungan yang intim antara kecerdasan dan kekayaan. Buktinya, binatang juga diberikan banyak rezeki kendatipun 'otaknya' begitu adanya. Terkadang saya berfikir, jutaan umat manusia di kolong langit ini seluruhnya ingin membeli AIR MATA CINTA, namun mereka sulit mendapatkannya. Ada apa gerangan? Al-Quran telah menyingggung bahwa itu akibat lemahnya kemampuan manusia untuk mewujudkan cinta atau menyatukan hati. Makanya, ketika berbicara tentang mukjizat iman, Allah swt berfirman: dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allahlah yang telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Anfal: 62-63). Dengan ayat ini, harta dan kekayaan diletakkan di tempat asalnya berpondasikan iman. Jadi, imanlah terlebih dahulu terpajang. Dan, diantara daftar terakhir terpampang pula tanah, pada tempatnya. Taufik Munir www.religiusta.multiply.com www.zonastudi.co.cc |
/
Makhluk Ber-IQ Rendah; Sebuah Refleksi Diri
MUHASABAH DIRI (Dari Makhluk yang "ber-IQ Rendah") by: Religiusta *) "Hai orang yang beriman! Jauhilah terlalu banyak sangka menyangka. Sungguh, sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah saling memata-matai, dan janganlah saling memfitnah…." - Q.S. 49 Al Hujurat (Bilik-bilik) Ayat 12 - Si monumentum requiris, circum spice! Bagi saya yang yakin dengan kedahsyatan IQ rendah yang diberikan Allah swt kepada saya untuk memahami al-Islam sebagai dien, huda dan rahmat, alhamdulillah saya dapat merasakan keagungan al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw sebagai penyejuk hati dan pencerah bathin sekaligus penawar hati dan emosi. Dengan kata lain, IQ-rendah yang saya miliki bagi saya memiliki kedudukan yang sangat vital. Saya tidak akan menafikan ni'mat Allah yang 'sangat besar' ini. Beberapa hari yang lalu saya mendengar berita yang membuat saya sedih hingga kini: seorang bapak terisak-isak di depan pewawancara liputan6 SCTV. Sang suami itu ngilu karena hingga kini isterinya yang baru saja melahirkan anak kedua didera kelumpuhan otak. Dia tak bisa lagi bersenda gurau dengan suami, merawat buah hati tercintanya, bahkan untuk mengganti popok dirinya sendiri ia sudah tak mampu. Sang isteri hanya bisa meraung-raung bagai harimau, atau "bahkan lebih rendah dari binatang" kata sang narator Liputan6. Jika anda ingin bersyukur dengan anugerah otak yang diberikan Allah, lihat hikmah dibalik peristiwa yang masih aktual hingga kini. Silakan cek sekarang di liputan6.com. Barangkali sumbangsih cerita tersebut dapat menggugah emosi dan spiritual kita, bahwa ada "sesuatu" di balik keperkasaan yang kita banggakan sekarang ini. Teman-teman, sungguh, dengan perasaan yang tulus ikhlas, saya sangat mensyukuri IQ rendah yang saya miliki sekarang. Alhamdulillah, dengan akal yang pas-pasan ini pula saya bisa memberikan klarifikasi di pagi yang indah ini (di sini pukul 7:15 pagi, atau jam 11:15 pagi waktu Jakarta). Sang perawat dan dokter serta ahli medis yang sengaja didatangkan dari luar kota itu tak mampu "memperbaiki" kerusakan memori di otak sang pasien. Bagi sang suami, ini adalah kelam; kegelapan membumbung dalam kekelaman hatinya. Hanya nestapa, dan tak mampu berbuat apa-apa. Kalaupun ia sanggup untuk mendatangkan spesialis otak dari Jerman yang kesohor itu, apakah ia yakin kebahagiaan kedua sejoli itu dapat dikembalikan? Ingat, si cantik yang manja itu kini "lebih rendah dari binatang". Sementara saya, anda, atau manusia di belahan dunia mana saja yang tidak mampu menciptakan seekor 'coro'-pun(!), sudah berani mencerca makhluk ciptaan Allah yang bernama otak atau Intelegensia Quotient yang tak terperikan harganya itu. Firaun juga cerdas, ber-IQ tinggi, dan piawai menghimpun massa. Si Faraoh (alias Firaun) itu lantas berubah polah menjadi diktator, super-otoriter, megalomania, arogan, egois bahkan mengaku digdaya hingga ditenggelam-kan Tuhan di Terusan Suez, hanya dalam sekejap mata! Kini, keluarga Ramsis II itu terbaring kaku di museum dengan tulang berbalutkan kulit doang. Maha benar Allah, manusia model gini musti diabadikan, biar menjadi pelajaran bagi generasi sekarang dan masa datang. (Lihat: QS. Yunus:92). Karena itu, mari kita sama-sama renungkan pepatah di atas, if you seek a monument, look about you! Untuk Anda yang ber-IQ atau ber-emosi tinggi Alhamdulillah sekarang saya menyadari bahwa IQ saya rendah, bahkan ketika kedua orang tua dan semua dokter tak pernah tahu menahu tentang hal ini. Ketika saya sholat lima waktu, tahajjud atau istikharah, Tuhan pun tak pernah menunjukkan perkara penting ini. Namun rupanya ada seorang sahabat yang sekali-kali 'bertemu' sejam-dua jam di room ISDN, mampu mendeteksi kekurangan saya. Sungguh ajaib, melebihi buraq yang terbang bersama Muhammad di langit semesta, membantu 'sang tuan' menyampaikan risalah samawi kepada umat manusia tentang tamsil-tamsil neraka-sorga! Sungguh, saya baru tahu sekarang. Kendati begitu: saya tetap bersyukur, karena IQ juga bukan segala-galanya. Tuhan masih memberi peluang lain kepada saya agar tidak hanya 'berfikir'. Sebab, jika itu yang anda perhitungkan, maka tunggulah nanti saat kecerdasan emosi anda menurun. Apakah anda berfikir bahwa setiap kali skor kecerdasan otak naik, maka kecerdasan emosi juga naik? Apakah ada SATU penelitian (saja) yang bisa meyakinkan saya bahwa tiap kali kecerdasan otak anda di atas rata-rata, maka kecerdasan spiritual anda juga mencapai puncak? Mohon maaf, karena saya ber-IQ rendah tentu saya tak bisa menjawab pertanyaan di atas, apalagi menjamin kebenaran asumsi saya ini. Karenanya, silakan bagi anda yang ber-IQ tinggi untuk membaca satu halaman saja dari karangannya 'akang' Daniel Goleman, dalam Working with Emotional Intelligence. Buku yang diterbitkan Bantam Books (New York) itu sempat 'in' di tahun 1999. Kata 'mas' Daniel itu, tahun 1918 di Amerika Serikat diadakan suatu survery besar-besaran tentang IQ. Kesimpulannya sungguh mengenaskan: sementara skor IQ seseorang tinggi, kecerdasan emosi mereka justeru cenderung turun. Sebuah paradoks yang sangat membahayakan, sekaligus juga mengkhawatirkan. Kalau mau dipukul rata-rata, orang-orang sekarang tumbuh dalam kesepian dan depresi, lebih mudah marah dan lebih sulit diatur, lebih gugup, cemas, impulsif dan agresif. (Hal. 13). Lalu apa hubungannya? Maksud saya begini: manakah yang lebih penting, IQ (kecerdasan akal), EQ (kecerdasan emosi) atau SQ (kecerdasan spiritual)? Menurut saya yang ber-IQ rendah, semua penting. Tentu saja tidak bagi anda yang ber-IQ tinggi. Anda atau Robbert K. Cooper, Ph.D. mungkin punya pendapat yang sama bahwa "kecerdasan emosi dan spiritual jauh lebih penting!" Mengapa? Karena "hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita jalani. Hati tahu hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh otak atau pikiran. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar, menciptakan kerjasama, memimpin dan melayan". Kalau memang kecerdasan emosi dan spiritual itu tidak lebih penting dari IQ, mengapa musti ada syahadat yang menjadi pusat mission statement, membulatkan tekad, membangun visi, menciptakan wawasan, men-transformasi visi, serta komitmen total? Jika IQ lebih penting dari segalanya mengapa kita musti sholat yang mensimulasi kita untuk tetap enjoy (relaksasi), membangun pengalaman positif, serta mampu mengasah semua prinsip kehidupan kita? Jika memang IQ itu "segalanya" (menurut anda), toh mengapa Tuhan masih saja mencekoki kita dengan kewajiban puasa sebagai kendali diri nafsu hewaniah? Lantas mengapa puasa menjadi sumber peningkatan kecakapan EMOSI secara fisiologis? Mengapa tidak dengan metode lain saja? Mengapa harus ada zakat yang --kata amir pengajian saya--dapat membangun landasan koperatif dan mampu menginvestasi kepercayaan, komitmen, kredibilitas, keterbukaan, empati dan kompromi? Setelah keempat itu usai kita lakukan, mengapa harus pula ada kewajiban menunaikan ibadah haji sebagai total action kemusliman kita? Dengan kata lain, mampukah IQ yang tinggi itu dapat mengatasi segala ketimpangan sosial tanpa ada EMOSI empati dan kompromi dengan semangat kooperatif untuk membagi anugerah limpahan karunia harta kepada orang lain? Saya hanya bertanya satu hal ini saja, plus pertanyaan di atas. Mampukah? Marilah kita merenung sejenak, lantas bermuhasabah diri: betapa kita tak mampu berbuat apa-apa jika dihadapkan dengan ketetapan Sang Pencipta: itulah kewajiban yang musti kita lakoni, demi emosi dan spiritualitas kita. BUKAN OTAK! Saya yang ber-IQ rendah, tidak bergelar ustadz atau kiyai, menjadi malu seandainya tulisan ini dibaca oleh orang-orang cendikia, apalagi oleh seorang amir yang tingkat kecerdasan spiritualnya tinggi, penuh tawadhu dan lapang dada. Sebab, meminjam istilah Robert Stenberg, "bila IQ yang berkuasa, ini karena kita membiarkannya berbuat demikian. Dan bila kita membiarkannya berkuasa, kita telah memilih penguasa yang buruk". Hanya kepada Allah swt pemilik IQ, Emosi dan Spiritual manusia serta penggenggam alam semesta, saya yang dhaif ini berserah diri. Kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan semata. Sungguh, dugaan tiada berguna sedikitpun melawan kebenaran. Sungguh, Allah Mengetahui segala yang mereka lakukan. - Q.S. 10 Surah Yunus (Nabi Yunus) Ayat 36 - *) Religiusta atau Taufik Munir, Nick yang biasa anda temukan bersama: danyon007 [Komandan Batallion], aa_funky [GUNDALA putra-petir], ahmad_markonah, siti_marzuki, religiusta, banpol [Bantuan_Polisi], dan Tenth_District. Beberapa waktu lalu account "religiusta" tak bisa dibuka, sebagai penggantinya menggunakan "relligiousta". E-mail: religiusta@softhome.net atau religiusta@yahoo.com, phone: +622197477764. |
Senin, 12 Juli 2010 /
HADIS-HADIS LEMAH DAN PALSU
| 1. Hadis "Lima perkara yang membatalkan puasa dan wudhu: berdusta, mengadu-domba, menggunjing orang, melihat dengan birahi, dan sumpah palsu". Hadis Kazib/bohong (sumber: Al-'Ilal 354/1. Al-fawa'id al-Majmu'ah, hal. 94). 2. "Allahumma laka shumtu, wa 'ala rizqika afthortu (Ya Allah untukmu aku berpuasa, dan atas rizkimu kami berbuka". Hadis Dhoif. (Sumber: Al-Talkhis al-Khabir 202/2). 3. Hadis: "Awal bulan puasa adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhir ramadhan pembebasan dari api neraka". Hadis Dhoif (Sumber: Mizan al-I'tidal 369/2, Al-silsilah al-dhaifah nomor 1569). 4. "Kalau para hamba-Ku mengetahui apa yang terdapat di bulan Ramadhan, niscaya semua hamba-Ku berharap satu tahun seluruhnya ramadhan". Hadis Maudhu (Sumber: Al-Fawaid al-Majmu'ah, hal.88). 5. "Tiap segala sesuatu ada zakatnya, dan zakat jasad adalah puasa". "Puasa adalah setengah daripada sabar". Hadis Dhaif. (Sumber: misbah al-zujajah, nomor 633). 6. "Berpuasalah, niscaya kau akan sehat". Maudhu (Sumber: al-Fawaid al-Majmu'ah, hal. 90). 7. "Jangan katakan ramadhan, karena sesungguhnya ramadhan adalah salah satu dari asma Allah, tapi katakanlah Bulan Ramadhan". Bukan Hadis Shahih (Sumber: Tanzih al-Syari'ah 153/2). 8. Dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sholat pada bulan suci Ramadhan 20 rakaat, dan satu witir". Dhoif (Sumber: Fathul Bari 299/4). 9. "Barang siapa berbuka (tidak puasa) satu hari di bulan Ramadhan di al-hadhr, maka hadiahkan satu onta betina. Kalau tidak ada maka hendaknya ia memberi makan 30 sha' kurma kepada orang-orang miskin". Hadis Bathil (Sumber: Mizan al-I'tidal 160/2). 10. "Barangsiapa berbuka satu hari tanpa rukhsoh tidak pula karena uzur, maka wajib baginya berpuasa tigapuluh hari. Barangsiapa yang berbuka dua hari, maka wajib baginya maka wajib baginya (berpuasa) 60 hari. Dan barangsiapa berbuka tiga hari, maka wajib baginya (berpuasa) 90 hari". Hadis ini tidak ada asalnya (Sumber: Tanzih al-Syariah 148/2). 11. "Barangsiapa tidak berpuasa selama sehari tanpa sebab atau penyakit, maka ia tidak terhitung puasa setahun meskipun ia melakukannya" Hadis Dhoif (Fathul Bari 191/4). 12. "Bulan Ramadhan tergantung antara langit dan bumi, dan tidak diangkat kepada Allah kecuali dengan zakat fitri", Hadis Dhaif (Sumber: Faidh Al-Qadir 166/4). 13. "Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan ummatku". Hadis Kizb/Dusta (Sumber: Al-Mannar al-Munif 168, dan Al-Fawaid al-Majmu'ah hal. 100). 14. "Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan yang lain seperti keutamaan al-Quran atas kalam (ucapan) yang lain. Keutamaan bulan Sya'ban atas bulan-bulan yang lain laksana keutamaanku atas para Nabi. Dan keutamaan bulan Ramadhan bagaikan keutamaan Allah atas seluruh hamba-hamba-Nya", Hadis Maudhu/Palsu (sumber: Al-Asrar al-Marfu'ah no. 642). 15. "Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan" Hadis Dhaif (sumber: Al-Azkar Nawawi, hal. 274). 16. "Barangsiapa sholat fardhu maka doanya mustajab, dan barangsiapa menamatkan al-Quran maka doanya mustajab" Hadis Dhaif (sumber: Majma' Al-Zawaid 172/7). 17. "Apabila seorang hamba menamatkan al-Quran maka 60.000 malaikat akan turut mendoakannya" Hadis Maudhu/Palsu (sumber: Al-Fawaid al-Majmu'ah hal. 310). 18. "Barangsiapa menghidupkan empat malam maka wajib baginya Surga: (yaitu) malam Tarwiyah, malam Arafah, malam iedul Qurban dan malam iedul Fitri" Tidak Benar (Faidh Al-Qadir 39/6). 19. "Barangsiapa menghidupkan malam Fitri dan malam Qurban maka tidak mati hatinya di hari matinya semua hati [hari Kiamat]" Hadis Maudhu (sumber: Faidh Al-Qadir 39/6). 20. "Sebagian sunnah Nabi ialah 12 rakaat setelah ied Fitri dan enam rakaat setelah Ied Adha". Hadis ini tidak ada asalnya (Al-Fawaid Al-Majmu'ah, hal. 52). |
/
BUNGA
| izinkan kucinta bunga yang mewarna di taman sukma kembang berkembang bunga yang tak mengembang di taman hati yang tak pernah mati aku ada diantara dua hati antara hidup dan mati tapi aku selalu mencari hidup walau masih tetap redup dimana cinta yang benama cinta kukenali bunganya agar tetap menganga. di sanubari hati yang ingin mati cintailah bunga-bunga yang mekar di taman di trotoar jalanan yang layu atau tapi tidak melaju. cintailah bunga-bunga yang berkembang dan berkembang banyak bunga yang berkembang sewarna merah darah, sekuning layu kemuning. banyak bunga yang tak berkembang |
